INOVASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN MODEL PENDEKATAN PROSES
T a r t i b
Abstrak: Harus kita akui secara jujur bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di SMP belum berjalan secara optimal seperti apa yang kita harapkan. Masih banyak guru yang menggunakan teknik pembelajaran secara teoritis dan hafalan sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung kaku, monoton, dan membosankan. Mata pelajaran bahasa Inonesia belum mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional, kognitif, emosional, dan afektif. Penggunaan metode pembelajaran yang masih tradisional itulah yang berimbas pada diri siswa. Bahasa Indonesia tidak dapat dijadikan sebagai mata pelajaran yang disenangi apalagi dirindukan oleh siswa. Imbas lebih jauh dari kondisi pembelajaran semacam itu adalah kegagalan siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, serta sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Kondisi semacam itu diperparah lagi oleh kurangnya inovasi guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dari permasalahan tersebut, penulis berupaya untuk memaparkan sebuah inovasi pembelajaran bahasa Indonesia dengan model pendekatan proses yang mudah-mudahan bisa diterapkan di sekolah-sekolah setingkat SMP.
Kata Kunci: inovasi pembelajaran, bahasa indonesia, pendekatan proses
Pendahuluan
Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi “pengkhutbah” yang terus berceramah dan menjejalkan berbagai macam teori kepada siswa didik. Sudah bukan zamannya lagi anak diperlakukan bagai “keranjang sampah” yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu. Peserta didik perlu diperlakukan secara utuh dan holistik sebagai manusia-manusia pembelajar yang akan menyerap pengalaman sebanyak-banyaknya melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Oleh karena itu, kelas perlu didesain sebagai “masyarakat mini” yang mampu memberikan gambaran bagaimana sang murid berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kata lain, kelas harus mampu menjadi “magnet” yang mampu menyedot minat dan perhatian siswa didik untuk terus belajar, bukan seperti penjara yang mengkrangkeng kebebasan mereka untuk berpikir, berbicara, berpendapat, mengambil inisiatif, atau berinteraksi.
Kita menyadari bahwa guru memiliki peran yang sangat vital dalam proses pembelajaran di kelas. Gurulah yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak lanjut. Dalam konteks demikian, gurulah yang akan menjadi “aktor” penentu keberhasilan siswa didik dalam mengadopsi dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kehidupan hakiki.
Harus diakui tugas guru memang berat. Mereka tidak hanya dituntut untuk melakukan aksi “lahiriah” dalam bentuk kegiatan mengajar, tetapi juga harus melakukan aksi “batiniah”, yakni mendidik; mewariskan, mengabadikan, dan menyemaikan nilai-nilai luhur hakiki kepada siswa didik. Ini jelas tugas dan amanat yang sangat berat ketika nilai-nilai yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat sudah demikian jauh merasuk dalam dimensi peradaban yang chaos dan kacau.
Akan tetapi jika proses pembelajaran berlangsung monoton dan seadanya; guru cenderung bergaya indoktrinatif dan dogmatis seperti orang berkhotbah, upaya penyemaian nilai-nilai luhur hakiki akan sulit berlangsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Apalagi anak-anak hanya diperlakukan sebagai objek yang pasif, tidak diajak untuk berdialog dan berinteraksi. Maka, kegagalan penyemaian nilai-nilai luhur kepada siswa didik hanya tinggal menunggu waktu. Dalam konteks demikian, guru perlu mengambil langkah dan inisiatif untuk mendesain proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan melalui pendekatan proses. Guru memiliki kebebasan untuk melakukannya di kelas. KTSP sangat leluasa memberikan kesempatan kepada guru untuk menerapkan berbagai gaya dan kreativitasnya dalam kegiatan pembelajaran.
Melalui kegiatan pembelajaran yang inovatif, atmosfer kelas tidak terpasung dalam suasana yang kaku dan monoton. Para siswa didik perlu lebih banyak diajak untuk berdiskusi, berinteraksi, dan berdialog sehingga mereka mampu mengkonstruksi konsep dan kaidah-kaidah keilmuan sendiri, bukan dengan cara dicekoki atau diceramahi. Para murid juga perlu dibiasakan untuk berbeda pendapat sehingga mereka menjadi sosok yang cerdas dan kritis. Tentu saja, secara demokratis, tanpa melupakan kaidah-kaidah keilmuan, sang guru perlu memberikan penguatan-penguatan sehingga tidak terjadi salah konsep yang akan berbenturan dengan nilai-nilai kebenaran itu sendiri.
Oleh karena itu perlu adanya inovasi-inovasi pembelajaran yang dapat menggugah semangat belajar siswa, terutama pembelajaran bahasa Indonesia yang pada akhirnya proses pembelajaran dapat berhasil secara maksimal. Keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia ditandai dengan bertambahnya pengetahuan, keterampilan berbahasa, serta sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
Hakikat Inovasi
Apakah yang dimaksudkan dengan inovasi? Menurut Ronger E. Miller (1971) inovasi merupakan ide, amalan atau objek yang dianggap baru oleh seseorang.
Spencer (1994) menjelaskan inovasi ialah sesuatu yang dianggap baru dan lebih baik daripada yang lama oleh seseorang individu. Glosari Teknologi Pendidikan (1995) merujuk inovasi sebagai ide, konsep atau strategi baru yang bisa meningkatkan sesuatu amalan.
Spencer (1994) menjelaskan inovasi ialah sesuatu yang dianggap baru dan lebih baik daripada yang lama oleh seseorang individu. Glosari Teknologi Pendidikan (1995) merujuk inovasi sebagai ide, konsep atau strategi baru yang bisa meningkatkan sesuatu amalan.
Sufean Hussin (2001) dalam kertas kerjanya pada Seminar Dasar dan Pengurusan Pendidikan menyatakan inovasi bermaksud pembaharuan, modifikasi, atau memperbaiki ide, benda, ilmu dan ciptaan seni budaya tamadun dengan tujuan memenuhi fungsi-fungsi tertentu atau memenuhi cita rasa tertentu atau memenuhi pasaran tertentu. Zaltman et. al (1973) menyatakan inovasi ialah ide, latihan atau bahan artifak yang kelihatan baru pada unit yang menggunakannya.
Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah:
· merupakan penghasilan baru
· berbentuk maujud dan mujarad
· berdasarkan proses penyusunan semula
· dengan menggunakan unsur yang ada
· terjelma sebagai unik, memudahkan dan bernilai
Implementasi Inovasi Pembelajaran bahasa Indonesia
1. Model Pembelajaran Menyimak
Pembelajaran menyimak dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama dengan pembelajaran berbicara atau membaca. Hal penting yang perlu dilakukan adalah perlunya perhatian terhadap proses menyimak itu sendiri. Proses menyimak meliputi menerima lambang lisan, memberi perhatian, dan menentukan makna. Ada berbagai macam menyimak yang dapat dilakukan, seperti menyimak estetik, menyimak kritis, menyimak komprehensif, dan sebagainya. Dalam menyimak estetik, misalnya, dapat dilakukan langkah-langkah: (a) memprediksi, (b) menyusun imajinasi mental, (c) menghubungkan dengan pengalaman pribadi, (d) menghubungkan dengan pengalaman literatur, (e) memperhatikan keindahan dan kekuatan bahasa, dan (f) menggunakan pengetahuan untuk pemahaman lebih lanjut.
2. Model Pembelajaran Berbicara.
Ada beberapa model pembelajaran berbicara yang dilakukan, antara lain percakapan, berbicara estetik, berbicara bertujuan, dan aktivitas drama (Tompkins & Hosisson, 1995). Ada beberapa macam percakapan yang dapat dilakukan siswa di dalam kelas, seperti analisis propaganda iklan, membandingkan dua pelaku dalam dua cerita, atau topik-topik lain yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Untuk memulai percakapan dapat meminta seorang siswa sebagai sukarelawan atau guru mengajukan pertanyaan. Agar percakapan tetap berlangsung, siswa diminta secara bergantian memberi komentar atau mengajukan pertanyaan atau mendukung pendapat orang lain. Untuk menutup percakapan dapat dilakukan dengan pencapaian konsensus atau kesimpulan yang disepakati bersama.
Berbicara estetik dapat berupa percakapan tentang sastra, bercerita, dan teater pembaca. Percakapan tentang sastra dapat dilakukan setelah siswa membaca atau mendengarkan karya sastra. Siswa dapat menyampaikan pendapat dan komentar mereka tentang karya sastra yang baru mereka baca/dengar. Bercerita (mendongeng) adalah kegiatan yang sangat bermanfaat. Kegiatan ini sangat menyenangkan dan sekaligus merangsang imajinasi anak. Langkah-langkah dapat bercerita adalah memilih cerita, mempersiapkan diri untuk bercerita, menambah peraga, dan menyampaikan cerita. Teater pembaca adalah presentasi pembacaan naskah drama oleh sekelompok siswa. Langkah-langkah kegiatannya, memilih naskah, latihan, dan presentasi.
Kegiatan berbicara bertujuan dapat berupa laporan lisan, wawancara, atau debat. Dalam laporan lisan, siswa dapat diminta untuk memberikan informasi topik tertentu atau melaporkan hasil membaca buku. Langkah-langkah pembelajarannya adalah memilih topik, mencari dan menyusun informasi, membuat peraga, dan mempresentasikan. Wawancara juga dapat dilakukan oleh para siswa sekolah dasar. Langkah-langkahnya perencanaan, melakukan wawancara, dan berbagi pengalaman hasil wawancara. Debat juga dapat dilakukan jika ada isu kontradiktif yang menarik. Sebagian siswa mungkin setuju atau tidak setuju terhadap isu tersebut. Langkah-langkah pembelajarannya adalah tentukan isu/usul, mengelompokkan siswa yang setuju dan yang tidak setuju, dan melakukan debat. Untuk melaksanakannya dapat dilakukan prosedur: (1) pertanyaan pertama dan ketiga mendukung usul, (2) pertanyaan kedua dan keempat menolak, (3) pertanyaan sanggahan pertama dan ketiga disampaikan kelompok siswa setuju, dan (4) pertanyaan sanggahan kedua dan keempat dilakukan kelompok siswa tak setuju.
Kegiatan berbicara bertujuan dapat berupa laporan lisan, wawancara, atau debat. Dalam laporan lisan, siswa dapat diminta untuk memberikan informasi topik tertentu atau melaporkan hasil membaca buku. Langkah-langkah pembelajarannya adalah memilih topik, mencari dan menyusun informasi, membuat peraga, dan mempresentasikan. Wawancara juga dapat dilakukan oleh para siswa sekolah dasar. Langkah-langkahnya perencanaan, melakukan wawancara, dan berbagi pengalaman hasil wawancara. Debat juga dapat dilakukan jika ada isu kontradiktif yang menarik. Sebagian siswa mungkin setuju atau tidak setuju terhadap isu tersebut. Langkah-langkah pembelajarannya adalah tentukan isu/usul, mengelompokkan siswa yang setuju dan yang tidak setuju, dan melakukan debat. Untuk melaksanakannya dapat dilakukan prosedur: (1) pertanyaan pertama dan ketiga mendukung usul, (2) pertanyaan kedua dan keempat menolak, (3) pertanyaan sanggahan pertama dan ketiga disampaikan kelompok siswa setuju, dan (4) pertanyaan sanggahan kedua dan keempat dilakukan kelompok siswa tak setuju.
Aktivitas drama dapat dilakukan melalui model pembelajaran dengan metode bermain peran, bermain boneka, dan pementasan drama. Bermain peran dapat dilakukan baik dengan naskah yang sudah tersedia atau yang dibuat sendiri oleh siswa. Jika tersedia media boneka, di sekolah dapat dilakukan kegiatan sandiwara boneka. Sementara itu, pementasan drama dapat juga dilakukan oleh siswa di kelas dengan segala kesederhanaan sesuai dengan situasi kelas.
3. Model Pembelajaran Membaca.
Pembelajaran membaca dapat menggunakan pendekatan proses (Tomkins & Hoskisson, 1995). Proses yang dimaksud adalah proses membaca. Penelitian Syamsi (2000) menyimpulkan bahwa pembelajaran membaca dengan menggunakan pendekatan proses dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa. Menurut hasil penelitian Palmer et.al. (1994) antara lain disebutkan bahwa siswa akan mendapatkan keuntungan jika proses, seperti proses membaca, diperagakan di hadapan siswa.
Adapun proses membaca meliputi: persiapan untuk membaca, membaca, merespon, mengeksplorasi teks, dan memperluas interpretasi. Proses membaca tidak dimulai dengan membuka buku dan langsung membaca (Tomkins & Hoskisson, 1995), tetapi melalui persiapan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) memilih buku/bacaan, (2) menghubungkan buku/bacaan dengan pengalaman pribadi dan pengalaman membaca sebelumnya, (3) memprediksi isi buku/bacaan, dan (4) mengadakan tinjauan pendahuluan terhadap buku/bacaan.
Adapun proses membaca meliputi: persiapan untuk membaca, membaca, merespon, mengeksplorasi teks, dan memperluas interpretasi. Proses membaca tidak dimulai dengan membuka buku dan langsung membaca (Tomkins & Hoskisson, 1995), tetapi melalui persiapan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) memilih buku/bacaan, (2) menghubungkan buku/bacaan dengan pengalaman pribadi dan pengalaman membaca sebelumnya, (3) memprediksi isi buku/bacaan, dan (4) mengadakan tinjauan pendahuluan terhadap buku/bacaan.
Pada tahap kedua dalam proses membaca, siswa membaca buku atau bacaan secara keseluruhan. Ada lima macam model membaca (Tomkins & Hoskisson, 1995), yakni 1) membaca nyaring (reading aloud), 2) membaca bersama (shared reading), 3) membaca berpasangan (buddy reading), 4) membaca terbimbing (guided reading), dan 5) membaca bebas (independent reading).
Pada tahap ketiga, merespon, siswa memberi respon terhadap kegiatan membaca mereka dan terus berusaha memahami isi. Ada dua langkah yang dapat dilakukan siswa untuk tahap ini (Tomkins & Hoskisson, 1995), yakni 1) membaca dalam format membaca, dan 2) berpartisipasi dalam percakapan klasikal. Setelah memberi respon, para siswa kembali memperhatikan buku/bacaan untuk menggali isinya lebih dalam lagi. Para siswa dapat melakukan langkah-langkah: 1) membaca ulang buku/bacaan, 2) menguji keahlian khusus penulis (the author's craft), 3) mempelajari kosakata baru, dan 4) berpartisipasi dalam pengajaran singkat yang dilakukan guru.
Pada tahap terakhir dalam proses membaca, memperluas interpretasi dapat dilakukan kegiatan-kegiatan: 1) memperluas interpretasi dan pemahaman, 2) merefleksikan pemahaman, dan 3) menilai pengalaman membaca (Tomkins & Hoskisson, 1995). Ketiga kegiatan itu dapat dilakukan dengan melibatkan keterampilan berbahasa yang lain, seperti berbicara dan menulis. Kegiatan seperti bermain peran/drama atau melakukan tugas/proyek khusus juga dapat dilakukan.
Jika dilihat kembali tahap-tahap membaca seperti disarankan dilakukan dalam pembelajaran membaca dengan pendekatan proses di atas, tampak bahwa terdapat begitu banyak kegiatan. Keterlibatan siswa dalam setiap kegiatan itu sangat berharga dan berguna untuk perkembangan keterampilan membaca.
Jika dilihat kembali tahap-tahap membaca seperti disarankan dilakukan dalam pembelajaran membaca dengan pendekatan proses di atas, tampak bahwa terdapat begitu banyak kegiatan. Keterlibatan siswa dalam setiap kegiatan itu sangat berharga dan berguna untuk perkembangan keterampilan membaca.
Pada pembelajaran membaca dengan pendekatan proses, siswa benar-benar belajar bagimana caranya membaca. Mereka tidak hanya belajar bagaimana membunyikan tulisan, tetapi mereka juga belajar bagaimana memilih bacaan yang menarik, melakukan kegiatan membaca dengan berbagai bentuk, memberi respon, menggali bacaan secara lebih mendalam, serta melakukan kegiatan lanjutan untuk lebih dapat memahami bacaan. Setiap ada kesulitan akan selalu berusaha dipecahkan dengan bantuan orang-orang lain baik teman sekelompok, sekelas, maupun guru. Dengan demikian, sudah tiba waktunya untuk mengubah model pendekatan pembelajaran membaca secara tradisional yang sudah berlangsung selama ini dengan pendekatan proses yang secara teoritik dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca. Selain dengan pendekatan proses, pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan berbagai teknik atau strategi, seperti KWL, SQ3R, STUDY, PQRST, OK5R, EVOKER, dan sebagainya. Berbagai teknik tersebut dapat dilakukan secara bervariasi sehingga dapat mencegah kebosanan siswa dalam belajar membaca.
4. Model Pembelajaran Menulis
Penelitian Syamsi (2000) juga menyimpulkan bahwa pembelajaran menulis dengan pendekatan proses dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa. Untuk itu, strategi ini kiranya dapat dilakukan sebagai salah satu alternatif kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran menulis dengan pendekatan proses meliputi lima tahap, yakni pramenulis, menulis draf, merevisi, menyunting, dan mempublikasi (Tomkins & Hoskisson, 1995). Pramenulis adalah tahap persiapan untuk menulis. Tahap ini sangat penting dan menentukan dalam tahap-tahap menulis selanjutnya. Sebagian besar waktu menulis dihabiskan dalam tahap ini. Adapun hal-hal yang dilakukan siswa dalam tahap ini adalah: (1) memilih topik, (2) mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembaca, dan (3) memperoleh dan menyusun ide-ide. Siswa dipersilakan untuk menentukan topik karangan sendiri. Jika ada siswa yang merasa kesulitan, guru dapat membantunya dengan mengadakan brainstorming (urun rembug) untuk menentukan beberapa macam topik kemudian meminta siswa yang merasa kesulitan memilih topik tersebut untuk memilih salah satu yang paling menarik di antara topik-topik itu. Melalui kegiatan pramenulis, siswa berbicara, menggambar, membaca dan bahkan menulis untuk mengembangkan informasi yang diperlukan untuk topik-topik mereka.
Ketika siswa menyiapkan diri untuk menulis, mereka perlu untuk berpikir tentang tujuan dari menulis yang akan mereka lakukan. Apakah mereka akan menulis untuk menghibur, menginformasikan sesuatu, atau mempersuasi? Selain itu mereka juga perlu merencanakan apakah mereka menulis untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain yang bisa teman sekelas, orang tua, nenek, kakek, paman, atau yang lain. Para siswa juga harus mempertimbangkan bentuk tulisan yang akan mereka buat. Apakah cerita, surat, puisi, laporan atau jurnal. Dalam satu kegiatan menulis hendaknya ditentukan satu bentuk tulisan saja.
Ketika siswa menyiapkan diri untuk menulis, mereka perlu untuk berpikir tentang tujuan dari menulis yang akan mereka lakukan. Apakah mereka akan menulis untuk menghibur, menginformasikan sesuatu, atau mempersuasi? Selain itu mereka juga perlu merencanakan apakah mereka menulis untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain yang bisa teman sekelas, orang tua, nenek, kakek, paman, atau yang lain. Para siswa juga harus mempertimbangkan bentuk tulisan yang akan mereka buat. Apakah cerita, surat, puisi, laporan atau jurnal. Dalam satu kegiatan menulis hendaknya ditentukan satu bentuk tulisan saja.
Para siswa melakukan berbagai kegiatan untuk berusaha memperoleh dan menyusun ide-ide untuk menulis. Graves (1983) menyebut penulis mempersiapkan diri untuk menulis sebagai kegiatan persiapan. Ada beberapa macam bentuk kegiatan yang dapat dilakukan, seperti (1) menggambar, (2) mengelompokkan, (3) berdiskusi, (4) membaca, (5) bermain peran, atau (6) menulis cepat.
Pada tahap menulis draf siswa diminta hanya mengekpresikan ide-ide mereka ke dalam tulisan kasar. Karena penulis tidak memulai menulis dengan komposisi yang siap seperti disusun dalam pikiran mereka, siswa memulai menulis draf ini dengan ide-ide yang sifatnya tentatif. Pada tahap membuat draf ini, waktu lebih difokuskan pada mengeluarkan ide-ide dengan sedikit atau tidak sama sekali memperhatikan pada aspek-aspek teknis menulis seperti ejaan, penggunaan istilah, atau struktur.
Pada tahap merevisi siswa memperbaiki ide-ide mereka dalam karangan. Merevisi bukanlah membuat karangan menjadi lebih halus, tetapi kegiatan ini lebih berfokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan, dan penyusunan kembali isi karangan sesuai dengan kebutuhan atau keinginan pembaca. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa pada tahap ini adalah: (1) membaca ulang seluruh draf, (2) sharing atau berbagi pengalaman tentang draf kasar karangan dengan teman dalam kelompok, dan (3) mengubah atau merevisi tulisan dengan memperhatikan reaksi, komentar atau masukan dari teman atau guru.
Setelah menyelesaikan draf kasar, siswa memerlukan waktu untuk beristirahat dan menjauhkan diri dari karangan mereka. Setelah itu, barulah siswa membaca kembali draf kasar mereka dengan pikiran yang segar. Ketika siswa membaca inilah, mereka membuat perubahan: menambah, mengurangi, menghilangkan atau memindahkan bagian-bagian tertentu dalam draf karangan. Bisa juga mereka menandai bagian-bagian yang akan diubah itu dengan memberinya tanda-tanda tertentu atau simbol, atau dengan menggarisbawahi.
Dalam kelompok, siswa mengadakan tukar pikiran dengan teman sekelompok atau sekelas. Kelompok-kelompok menulis ini sangat penting di mana guru dan siswa berbicara, atau memberi komentar tentang cara-cara untuk merevisi (Calkins, 1983). Kelompok ini dapat dibuat secara spontan atau kelompok yang sudah dibuat sebelumnya. Adapun kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini adalah: (1) penulis membaca karangannya, (2) para pendengar (siswa lain) memberi komentar, (3) penulis membuat pertanyaan, (4) pendengar memberikan saran, (5) proses itu diulang (sampai semua tampil dalam kelompoknya untuk membacakan dan meminta respon temannya), dan (6) penulis merencanakan untuk merevisi. Dalam kegiatan ini, guru bisa membantu siswa dengan berkeliling dan memonitor setiap kelompok. Kadang-kadang siswa mendapatkan kesulitan yang tidak dapat dipecahkan dalam kelompok sehingga memerlukan uluran tangan guru.
Setelah bekerja dalam kelompok, yakni bertukar pikiran dengan teman sekelompok tentang draf tulisan dan mendapatkan masukan, siswa siap untuk merevisi. Mereka mungkin menambah, mengurangi, menghilangkan atau memindahkan bagian-bagian tertentu yang dirasa perlu untuk diubah. Tahap berikutnya adalah menyunting. Fokus dari tahap menyunting ini adalah mengadakan perubahan-perubahan aspek mekanik karangan. Siswa memperbaiki karangan mereka dengan memperbaiki ejaan atau kesalahan mekanik yang lain. Tujuannya adalah untuk membuat karangan lebih mudah dibaca orang lain.
Adapun aspek-aspek mekanik yang diperbaiki adalah penggunaan huruf besar, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah dan kosakata serta format karangan. Waktu yang paling tepat untuk mengajarkan aspek-aspek mekanik ini ialah pada tahap menyunting bukannya melalui latihan-latihan pada buku kerja siswa.
Dalam menyunting, siswa membaca cepat karangan untuk menentukan dan menandai kemungkinan bagian-bagian tulisan yang salah. Guru dapat menunjukkan cara membaca cepat ini misalnya dengan membaca karangan salah satu siswa. Guru membaca karangan itu dengan lambat dan menandai kemungkinan bagian-bagian karangan yang salah dengan pensil atau pulpen. Dalam kegiatan membaca dan menandai bagian yang mungkin salah, siswa dapat menggunakan daftar chek untuk menentukan tipe-tipe kesalahan. Setiap tingkatan kelas siswa, dapat menggunakan daftar chek yang berbeda tergantung tinggi rendahnya kelas siswa.
Setelah siswa membaca cepat dan menentukan kemungkinan kesalahan yang sebanyak mungkin ada dalam karangan mereka, siswa kemudian memperbaikinya secara individu atau dengan bantuan orang lain. Beberapa kesalahan mungkin ada yang mudah untuk dikoreksi, ada yang perlu dilihat pada kamus, atau ada yang perlu bantuan dari guru secara langsung. Di sinilah kebermaknaan pembelajaran tata tulis yang dapat meliputi ejaan, tanda baca, dan penggunaan struktur atau istilah. Siswa benar-benar meresapi keterangan dan perbaikan dari guru atau teman sekelas.
Pada tahap mempublikasi, tahap akhir menulis, siswa mempublikasikan tulisan mereka dalam bentuk yang sesuai atau berbagi tulisan dengan pembaca yang telah ditentukan. Pembaca bisa teman sekelas, guru, pegawai sekolah, atau bahkan kepala sekolah. Adapun bentuk-bentuk tulisan yang bisa digunakan adalah buku, jurnal, laporan, atau tulisan lain. Penentuan bentuk tulisan ini ditetapkan berdasarkan kesepakatan siswa.
Dalam tahap mempublikasi ini, dapat juga dilakukan dengan konsep author chair atau kursi penulis. Siswa yang telah selesai melakukan kegiatan menulis, maju ke depan dan duduk di kursi itu. Selanjutnya ia membaca hasil karyanya, sementara itu para siswa lain dan guru memberikan perhatian dan menyampaikan aplaus dengan bertepuk tangan setelah pembacaan selesai. Pembacaan hasil karya siswa itu dapat meliputi sebagian atau seluruh siswa.
Menurut Tomkins & Hoskisson (1995) tahap-tahap yang terdapat dalam proses menulis itu tidak merupakan kegiatan yang linier. Pada dasarnya proses menulis bersifat nonlinier, merupakan suatu putaran yang berulang. Ini berarti setelah penulis merevisi tulisannya mungkin ia melihat ke tahap sebelumnya, misalnya ke tahap pramenulis untuk melihat kesesuaian isi tulisan dengan tujuan menulis.
Di samping itu, dalam pelaksanaannya, setiap siswa mungkin akan berada pada tahap menulis yang tidak sama walaupun sebagian besar siswa mungkin ada pada tahap yang sama. Hal ini dimungkinkan karena karakteristik setiap siswa berbeda, ada yang cepat berpikir, ada yang lambat, ada yang selalu meminta bantuan orang lain, ada yang mandiri, dan sebagainya. Guru sebagai kolabolator, bukan pemimpin kelas, harus bisa mengakomodasi setiap karakteristik siswa.
Guru hendaknya dapat menolong perkembangan keterampilan menulis setiap siswa semaksimal mungkin.Setiap ada kesulitan yang dialami siswa, guru harus dapat menciptakan situasi agar kesulitan siswa itu dapat dipecahkan, baik dengan bantuan orang lain, teman sekelompok, sekelas, maupun guru. Ini berarti bahwa guru dituntut memiliki kemampuan pengelolaan pembelajaran menulis dengan baik. Ia bukanlah pemimpin kelas, tetapi merupakan kolabolator atau teman siswa dalam memecahkan berbagai persoalan yang muncul dan membantu setiap siswa yang memiliki kesulitan.
Penutup
Tidak ada satu model pembelajaran yang paling sempurna. Yang ada adalah satu kekurangan model pembelajaran dapat ditutupi oleh satu model pembelajaran yang lain. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pemaduan beberapa model pembelajaran demi terciptanya tujuan pembelajaran yang lebih baik dan optimal. Salah satu model pembelajaran yang inofatif adalah dengan pendekatan proses yang dipadukan dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan seperti yang telah dipaparkan di atas.
Pendekatan proses yang dipaparkan di atas juga bukan satu-satunya model pembelajaran yang paling sempurna. Ada model-model pembelajaran lain yang kehadirannya juga sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan pembelajaran, terutama pembelajaran bahasa Indonesia. Hal ini seperti yang telah diuraikan di atas yaitu pada model pembelajaran membaca, diantaranya ada model KWI, SQ3R, STUDY, PQRST, OK5R, EVOKER, dan lain-lain.
Daftar Pustaka
Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik – Pengantar Pemahaman Bahasa Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Inovasi Pembelajaran dan Peran Guru sebagai Agen Perubahan. http://mgmpbismp.co. Diunduh: Kamis, 28 Mei 2009.
Inovasi dan Kreativiti dalam Pembelajaran. http://www.mudahbelajar.com. Diunduh: Sabtu, 16 Mei 2009.
Subrata, Heru. 2008. Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). http://mbahbrata-edu.blogspot.com. Diunduh: Sabtu, 16 Mei 2009.
Subyantoro. 2009. Pelangi Pembelajaran Bahasa. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.
Tim Pengajar Bahasa Indonesia Unnes. 2008. Pembelajaran Inovatif. Semarang: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 12 Unnes.
Tuhusetyo, Sawali. 2007. Inovasi Pembelajaran. http://jalan-mendaki.blogspot.com. Diunduh: Kamis, 28 Mei 2009.
mantap!!!!!!!!!!!!!
BalasHapus